Tips Berkebun Rumahan: Kompos

Setelah seluruh isi blog ini dihapus tahun lalu, ada keinginan untuk menjadikannya kumpulan catatan tentang kebun rumahan kami. Semacam sarana berbagi cerita dan tips; apa saja yang berhasil diterapkan, apa saja yang bisa diperbaiki. Sebagai pengantar awal, kebun kami diberi nama Inganta Tedoh, dari nama masa kecil almarhumah Nenek. Dua kata dalam bahasa Karo itu bermakna Tempat Kita Berteduh. Nenek banyak mengajari saya tentang berkebun; dulu saya sering bermain di ladang buah-buahan kami di kota kelahiran: Binjai, Sumatra Utara. Sebelum meninggal dunia, Nenek sering duduk di teras belakang, memperhatikan kami mengolah tanah untuk mengubah pekarangan gersang bekas urugan di Sewon, Yogyakarta, menjadi bedeng-bedeng produktif.

Untuk muatan pertama ini, saya ingin bercerita tentang satu perubahan kebiasaan di rumah kami. Hal tersebut pada akhirnya ikut ambil bagian dalam kesuksesan pemeliharaan kebun. Ternyata, upaya meningkatkan kesuburan tanah bisa dimulai dari dalam rumah.

Mari berlatih memilah sampah.

Mari berlatih memilah sampah.

Kebiasaan yang berubah di rumah kami terkait dengan pembuangan sampah. Tadinya, seluruh sampah campur aduk, ditumpuk di dalam tong besar di halaman depan sampai petugas kebersihan mengangkutnya. Menurut satu penelitian (walau sepertinya tidak dilakukan di Indonesia), volume sampah terbesar yang ada di tempat-tempat pembuangan sampah adalah sisa makanan atau olahan dapur. Mungkin Anda bertanya, “Lantas kenapa di pusat-pusat pembuangan sampah yang kebanyakan tampak bukan sampah makanan?” Sebab sisa (bahan) makanan cepat membusuk, sehingga terkesan “hilang.” Dan di situlah letak kerugian membuangnya begitu saja. Bisa dipastikan sampah yang paling cepat terurai adalah sampah organik, dan unsur-unsur organik merupakan modal terbentuknya struktur tanah yang kompleks dan (mendekati) ideal. Kita bisa menyebutnya “sunnatullah”: Ada kematian bagi yang hidup, dan ada yang hidup dari yang mati.

Di belakang itu terlihat salah satu pojok pembuangan sampah organik di kebun kami.

Salah satu pojok pembuangan sampah organik di kebun kami.

Sisa-sisa (bahan) olahan dapur kami kini tak terbuang percuma begitu saja. Apa yang bisa diberikan kepada hewan peliharaan (ada ayam, angsa, ikan, dan kucing) segera dibagikan, dan selebihnya masuk ke tong sampah khusus. Tak butuh waktu lama untuk melatih pemilahan ini. Cukup siapkan dua tong sampah, beri label “organik” dan “non-organik,” lalu tunjukkan kepada seluruh anggota keluarga dan beri mereka informasi mengenai apa saja yang bisa dimasukkan, khususnya ke dalam tong “organik.”

Contoh sampah organik adalah sisa sayur, sisa lauk, sisa buah, daging busuk, tempe busuk, nasi basi, roti/kudapan kadaluarsa, kulit kacang, kulit jagung, kulit rempah-rempah, ampas kopi dan teh, kertas, serta kardus. Semua itu boleh digabung. Kertas dan kardus agak pelik, memang. Ada jenis kertas yang proses pembuatannya melibatkan pencampuran plastik, seperti kertas-coklat nasi bungkus. Dan karena kurang jeli atau rada malas, kardus yang masih ada selotipnya kadangkala ikut tercampur. Jangan sepelekan sampah-sampah yang mengandung plastik ini. Demi kebun yang kualitas “organik”-nya maksimal, kita perlu jujur dan rajin agar tanah bebas dari apapun yang non-organik, khususnya yang kasat mata. Jangan sampai zat-zat kimia berisiko yang terkandung dalam plastik sampai terserap oleh tanah dan akhirnya oleh akar tumbuh-tumbuhan di kebun Anda.

Salah satu eksperimen kompos. Buat teralis bambu hingga menyerupai kandang untuk jalaran tomat. Di bagian tengah, gali lubang untuk meletakkan ember/pot yang sudah dibolongi sekelilingnya — ini jadi wadah pembuangan sampah organik yang sesekali disirami cairan kotoran sapi. Tanam bibit tomat di keempat sudut. Dalam tiga bulan, eksperimen ini sudah menghasilkan panen puluhan tomat.

Salah satu eksperimen kompos. Buat teralis bambu hingga menyerupai kandang untuk jalaran tomat. Di bagian tengah, gali lubang untuk meletakkan ember/pot yang sudah dibolongi sekelilingnya — ini jadi wadah pembuangan sampah organik yang sesekali disirami pupuk cair alami. Tanam bibit tomat di keempat sudut. Dalam tiga bulan, eksperimen ini sudah menghasilkan puluhan tomat.

Teknik pengomposan bahan-bahan organik bermacam-macam, namun secara umum bisa dibagi ke dalam kategori aerob (melibatkan udara) dan anaerob (kedap udara). Teknik kedap udara, seperti namanya, memerlukan wadah dengan tutup yang betul-betul rapat, dan terkadang melibatkan serbuk atau cairan mikroorganisme khusus, seperti pada teknik bokashi. Untuk kebun kami, sampah organik yang sudah terkumpul cenderung dibuang begitu saja di sudut-sudut atau lubang-lubang tertentu, dan kami biarkan udara, kelembaban, cahaya matahari, perubahan suhu siang-malam, serta mikroorganisme bekerja untuk mengurainya.

Di kebun Inganta Tedoh, ada dua sudut khusus yang jadi eksperimen-eksperimen sederhana saya. Yang pertama adalah “kandang tomat,” seperti terlihat pada gambar sebelumnya, dan yang kedua ialah eksperimen “menara cacing,” yang keterangannya bisa dilihat pada gambar berikut.

Eksperimen

Eksperimen “menara cacing.” Pipa paralon dibolongi sekelilingnya, lalu ditanamkan di tengah pot lebar (bisa diaplikasikan langsung ke lahan). Masukkan kertas atau serbuk kayu basah, lalu masukkan segenggam cacing. Karena dikhususkan untuk sampah organik berbau cukup pekat, pipa diberi tutup agar aromanya tak menyebar. Perlu diperhatikan bahwa cacing tidak menyukai jeruk dan bawang.

Seperti tertulis pada keterangan gambar barusan, menara cacing cocok diterapkan untuk sampah-sampah berbau menyengat, seperti sisa makanan bersantan, sebab ada tutup untuk mengurung aroma tak sedap. Jadi lalat pun tak berkerumun. Lantas bagaimana bila tumpukan kompos Anda berbau tapi tak ada waktu untuk membuat menara cacing? Siapkan — dalam jumlah cukup besar — jerami, atau serbuk kayu, atau daun dan ranting kering, atau abu pembakaran (again, no plastic please, apalagi styrofoam!). Tiap kali tercium bau busuk dari onggokan kompos, tambahkan bahan-bahan tadi di atasnya sampai tertutup sempurna.

Penumpukan bahan-bahan organik dengan tingkat karbon tinggi berupa daun-daunan atau ranting membantu mengurangi bau tak sedap.

Penumpukan bahan-bahan organik dengan tingkat karbon tinggi seperti dedaunan atau ranting kering membantu mengurangi bau tak sedap.

Kita yang hidup di negeri tropis patut bersyukur karena dianugrahi cahaya matahari dan suhu yang tinggi sepanjang tahun, sehingga mikroorganisme bermanfaat pun berkembang cepat. Itu artinya proses penguraian berlangsung lebih singkat ketimbang di zona-zona dengan empat musim. Dalam satu bulan, tanpa penambahan apapun, tumpukan sampah organik kemungkinan besar sudah kering seluruhnya, dan dalam tiga atau empat bulan sudah luruh dengan tanah. Itulah sebabnya saya senang menjadikan hasil proses pengomposan-langsung (direct composting) sebagian bagian dari penanaman dalam pot. Isi pot dengan bahan-bahan organik lapisan demi lapisan. Sebagai contoh, lapisan terbawah terdiri dari ranting-ranting kering. Lalu masukkan bahan organik basah, biasanya berupa daun-daun hijau atau cacahan pelepah pisang. Tutupi dengan daun-daun kering, jerami, atau potongan-potongan kertas/kardus. Tutupi dengan lapisan tipis tanah, lalu siramkan cairan kotoran ternak. Ulangi terus sampai terisi penuh. Selagi tanaman tumbuh dalam pot, pembusukan lapisan-lapisan tadi memberinya nutrisi secara perlahan. Pada akhirnya lapisan-lapisan ini akan susut, dan bisa ditambahi dengan tanah atau apapun yang lekas terurai.

Sudut kompos lain di kebun belakang. Tips: Menaburi bagian atas tumpukan kompos dengan tanah dan/atau kotoran ternak mempercepat proses penguraian dan peluruhan.

Sudut kompos lain di kebun belakang. Tips: Menaburi bagian atas tumpukan kompos dengan tanah dan/atau kotoran ternak mempercepat proses penguraian dan peluruhan.

Semoga bermanfaat, dan ayo berkebun!

3 responses to “Tips Berkebun Rumahan: Kompos

  1. Pingback: Pengomposan-Langsung Sebagai Bagian Penanaman dalam Pot | Bekabuluh·

  2. Trimakasih. Artikel artikel dari blog ini amat sangat bermanfaat bagi saya yang suka sekali bertanam di halaman rumah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s