Pengomposan-Langsung dalam Pot

Seperti disebutkan pada muatan pertama, saya senang menjadikan proses pengomposan-langsung (direct composting) sebagai bagian dari penanaman dalam wadah pot. Cara ini sudah berkali-kali saya lakukan dengan hasil yang cukup memuaskan, khususnya untuk tanaman sayur dengan akar yang relatif dalam, misalnya tomat, cabe, atau terong. Selain menghemat penggunaan tanah, sistem ini juga dapat mengurangi intensitas pemberian pupuk (organik).

Tentu saja, proses pengomposan-langsung dapat dilakukan dengan mencampurkan secara acak materi organik apapun yang Anda miliki atau temui. Namun ada pula cara yang lebih teratur, yakni materi organik yang masuk dalam satu kategori dijadikan satu lapisan, menyusul kategori lain. Cara ini memperhatikan kadar kalor (panas) yang dilepaskan oleh masing-masing kategori, sehingga proses penguraian diharapkan berlangsung lebih cepat.

Berikut contoh susunan lapisan-lapisan tersebut (urutan dihitung dari bagian paling bawah).

Cara ini cocok diterapkan pada pot-pot ukuran sedang, besar, dan jumbo, tidak untuk ukuran kecil.

Cara ini cocok diterapkan pada pot-pot ukuran sedang, besar, dan jumbo, tidak untuk ukuran kecil.

Pada bagian terbawah, Anda memiliki pilihan untuk menyertakan lapisan batu/kerikil/pecahan bata/pecahan genteng. Lapisan ini berfungsi untuk menyerap dan menyimpan air, sehingga kelembaban lapisan-lapisan di atasnya dapat terjaga. Pengadaan lapisan batu ini sangat baik diterapkan untuk tanam-tanaman buah dengan kayu yang keras, seperti jambu, srikaya, atau jeruk.

Meskipun Anda pada akhirnya tidak menaruh batu-batuan di bagian terbawah, lapisan kayu/dahan/ranting dapat menjalankan fungsi yang kurang lebih sama. Akan tetapi, lapisan ini pada akhirnya akan terurai, sehingga dapat terbuang begitu saja lewat lubang-lubang pot akibat aliran air dan gravitasi. Demi mencegah terbuangnya nutrisi begitu saja, selain mengadakan lapisan batu, Anda dapat pula mengubah posisi lubang-lubang pada pot. Tutup bagian bawah pot dengan plastik atau semen, lalu buatlah beberapa lubang di bagian samping, kira-kira satu jengkal tingginya dari dasar. Dengan demikian, air akan tertampung, dan bila berlebih akan terbuang dari samping tanpa terlalu banyak membawa serta nutrisi tanah/kompos.

Lapisan berikutnya di atas potongan kayu adalah (cacahan) materi hijau. Materi ini dapat berupa daun-daunan yang masih hijau atau muda, atau cacahan batang pisang. Semakin kecil ukuran cacahan materi ini, maka semakin cepat pelepasan kalor terjadi dan semakin cepat pula lapisan ini terurai. Untuk menahan agar kalor tak meninggalkan lapisan ini, maka ditambahkanlah (cacahan) materi coklat di atasnya. Lapisan ini dapat berupa daun-daun kering, jerami, maupun sobekan-sobekan kertas (kardus). Perlu diingat, materi hijau maupun coklat sebaiknya tidak menggunakan daun jati yang enzim-enzimnya justru memadatkan tanah. Dan agar proses pemanasan serta penguraian semakin intensif, berikan kotoran ternak, baik yang solid atau yang sudah dijadikan cairan (dicampur dengan air). Kemudian, masukkan lapisan tanah atau kompos yang sudah jadi.

Ulangi proses pelapisan ini hingga pot tertutup dengan sempurna, lalu tanamlah benih atau bibit pilihan Anda. Dalam satu atau dua bulan, volume isi pot akan menyusut, maka tambahlah tanahnya, atau jadikan pot ini tempat pembuangan sampah organik (apabila cocok dengan jenis tanaman).

Selamat mencoba!

Selamat mencoba!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s